Senin, 18 Maret 2013

JEPARA :"NILAI BAGUS UJIAN LULUS PRESTASI MULUS"

(  di soeara moeria online : www.soearamoeria.blogspot.com, Kamis, 14 Maret 2013 )
Jika “English Salawat” Dikumandangkan




Jepara-…Ya Rabbi shalli ala Rasul/ Muhammadin Sirril ula/ wal anbiya’ wal mursalin/ al ghurri khatman awwala// when we are meeting/ everything will be beautiful/ one of heart one of the soul/ for studying together// disaat kita sedang berkumpul/ semua menjadi indah/ satu hati satu jiwa/ belajar bersama-sama…


Penggalan salawat Asnawiyah mahakarya KH Raden Asnawi Kudus, diaransemen menjadi salawat bertajuk “Soulmate”—gubahan bahasa Arab, Inggris dan Indonesia oleh Ali Mahmudi (37). Lantunan salawat dalam 3 bahasa itu nyaring berkumandang usai materi bahasa Inggris di MTs Nurul Islam Kriyan Kalinyamatan Jepara, MTs/ MA Miftahul Ulum Sukosono Kedung Jepara, MTs Matholi’ul Huda Bugel Kedung Jepara, pondok pesantren Nurul Huda Mantingan Tahunan Jepara dan Universal English Course (UEC) Jepara.

Ya, begitulah English Salawat yang dipopulerkan lelaki kelahiran Jepara 18 Juli 1976 yang juga memperoleh restu langsung dari Ketua LP Maarif NU kabupaten Jepara,K. H. Zubaidi Masyhud,S.Pd.I,M.Pd. Juli 2011 lalu. Kemudian salawat yang merupakan salah satu  bentuk wujud nyata mahabbah kepada Rasulullah dilanggengkan di tempat ia mengajar bahasa Inggris, hingga kini.

Awal mula suami Sofiatun (30) terinspirasi tatkala di rumah mertuanya desa Troso RT.04 RW.10 kecamatan Pecangaan dilaksanakan pertemuan selapanan Jamiyyah Qurra’ Wal Huffadz (JQH) kecamatan Pecangaan-Kalinyamatan. Usai mendengar salawat Asnawiyah itu ia pun memperoleh insiprasi kemudian menggubah salawat itu menjadi “Soulmate”.

Tak hanya salawat karya mbah Asnawi, “Syiir tanpo waton” Gus Dur dan “Dauni” pun digubahnya—menjadi salawat Arab-Inggris yang isinya bentuk penghormatan kepada guru maupun spirit belajar.

Tujuannya kata Ali, lulusan IKIP PGRI Semarang ingin meminimalisir pandangan Bahasa Inggris adalah murni pelajaran umum. Menurutnya lewat Bahasa Inggris bisa juga untuk menyampaikan moral value (pesan moral) kepada peserta didik. Sama seperti Habib Syekh menyampaikan pesan moral melalui salawat dan syiiran bahasa Jawanya.

Hal itu baginya juga sejalan dengan pendidikan karakter yang didengung-dengungkan oleh pemerintah. “Karakter yang dimiliki oleh siswa madrasah dan santri berbeda dengan siswa umum. Siswa yang membaca English salawat dan memahami isinya bisa meneteskan air mata,” akunya.

Lewat English Salawat ayah dari Ulya Fairuz Zahiroh (5) hendak membuktikan Bahasa Inggris bukanlah pelajaran yang menakutkan tetapi akan menjadi mapel yang disukai. Apalagi dengan membaca salawat selain untuk mengharapkan syafaat dunia akhirat juga untuk kesuksesan dalam belajar. (Syaiful Mustaqim)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar